
Taman bunga di musim gugur, angin hangat berhembus menerbangkan daun-daun yang tumbang berserakan. Aku melangkah berat menahan sesak dalam dadaku membiarkan dedaunan itu tergeser dan berserakan. Aku tidak akan menangis karena dia, aku sudah berjanji pada Ibu. Arti sebuah tanggung jawab kadang berat, hanya saja ada keharusan bila pernah berani meng-iya-kan. Aku pernah lewati jalan ini bersamanya. Tangan hangatnya menggenggam tanganku erat sekali. waktu bahkan terasa berhenti, hangat hingga aku lupa saat itu musim dingin di taman ini.
Aku percaya padamu...
Aku sungguh percaya padamu...
Senyum manisku hanya benar-benar dapat tulus tertoreh saat ia di sisiku dan mebuat hal-hal konyol itu begitu renyah di pendengaranku. Tapi mengapa detik itu harus muncul dan tiba-tiba merusak semuanya hingga jadi begitu menyakitkan? Kau paksa aku menerima seseorang yang bukan aku kenal lagi. Hal ini terasa tiba-tiba begitu perih.
Mungkin karena aku terlihat terlalu tegar di hadapanmu, oleh karena itu harus aku lagi yang dikorbankan. Padahal kau tak tau, seberapa pedih yang aku rasakan hingga darah ini terpaksa menetes membahasahi aspal tempat kita berdiri bersama saat sore itu menjelang.
Aku yang iya-kan, aku yang maafkan saat kau coba bunuh aku dari belakang dengan mengatakan semua kebohongan bersih itu yang sialnya begitu saja tak sengaja terbuka di hadapan mataku tiba-tiba.
Aku percaya padamu...
Aku sungguh mempercayaimu...
Aku belajar bagaimana mengedepankan pikiranku yang sehat hingga ternyata jadi rusak separah ini, jadi mati sebodoh ini. Teorimu terlalu benar wahai pangeran berkuda putih, semuanya terlihat terlalu benar... Hingga aku tak sadar apa maksud semua kemanisanmu selama ini.
Hanya agar aku tidak terlalu sakit..
Hanya agar kau terlihat tidak terlalu buruk di hadapan mereka..
Tidak semudah itu pangeran, memaafkan pembunuh tidaklah semudah itu. Air mataku benar-benar tidak jatuh pagi ini karena kedua mataku pun sadar, kau pernah datang hanya untuk pergi lagi. Terlepas dari caramu yang begitu menyakitkan atau bahkan tidak sama sekali. Bahkan aku tak pernah ada di sisi manapun dihatimu, dan itu sangat memuakkan untuk memikirkannya. Aku seperti dipaksa mengaku bahagia saat digores belati. Bukan dengan cara itu membahagiakan wanita ini... Kalau saja aku bisa memaki, entah berapa kata yang dapat aku keluarkan untuk dapat menggambarkan seberapa hinanya kemampuan kotormu. Tapi kepalaku terlalu bertahan untuk membelamu, paling tidak hingga sedetik sebelum ini.
Aku hanya harus sadar satu hal tentang keberadaanmu.
Ya... Kau kesalahan terburuk yang pernah datang dan menjungkir-balikkan aku.
Namun hidupku terus berjalan. Setidaknya aku mengerti sekarang bahwa pelik yang kauciptakan secara tak sengaja ini berangsur-angsur terjawab dengan lantunan indah di hadapan kepalaku. Kau tidak akan pernah mengerti hingga aku benar-benar menghilang.
Langkahku akhirnya habis dipelataran rumah ini dan aku tak akan cari jalan lain untuk sampai ke tempat tujuanku seperti kemarin. Aku akan tetap lewat jalan ini, karena kau dan semua kenanganmu tak pantas untuk berarti apa-apa . . .
Aku percaya padamu...
Aku sungguh percaya padamu...
Senyum manisku hanya benar-benar dapat tulus tertoreh saat ia di sisiku dan mebuat hal-hal konyol itu begitu renyah di pendengaranku. Tapi mengapa detik itu harus muncul dan tiba-tiba merusak semuanya hingga jadi begitu menyakitkan? Kau paksa aku menerima seseorang yang bukan aku kenal lagi. Hal ini terasa tiba-tiba begitu perih.
Mungkin karena aku terlihat terlalu tegar di hadapanmu, oleh karena itu harus aku lagi yang dikorbankan. Padahal kau tak tau, seberapa pedih yang aku rasakan hingga darah ini terpaksa menetes membahasahi aspal tempat kita berdiri bersama saat sore itu menjelang.
Aku yang iya-kan, aku yang maafkan saat kau coba bunuh aku dari belakang dengan mengatakan semua kebohongan bersih itu yang sialnya begitu saja tak sengaja terbuka di hadapan mataku tiba-tiba.
Aku percaya padamu...
Aku sungguh mempercayaimu...
Aku belajar bagaimana mengedepankan pikiranku yang sehat hingga ternyata jadi rusak separah ini, jadi mati sebodoh ini. Teorimu terlalu benar wahai pangeran berkuda putih, semuanya terlihat terlalu benar... Hingga aku tak sadar apa maksud semua kemanisanmu selama ini.
Hanya agar aku tidak terlalu sakit..
Hanya agar kau terlihat tidak terlalu buruk di hadapan mereka..
Tidak semudah itu pangeran, memaafkan pembunuh tidaklah semudah itu. Air mataku benar-benar tidak jatuh pagi ini karena kedua mataku pun sadar, kau pernah datang hanya untuk pergi lagi. Terlepas dari caramu yang begitu menyakitkan atau bahkan tidak sama sekali. Bahkan aku tak pernah ada di sisi manapun dihatimu, dan itu sangat memuakkan untuk memikirkannya. Aku seperti dipaksa mengaku bahagia saat digores belati. Bukan dengan cara itu membahagiakan wanita ini... Kalau saja aku bisa memaki, entah berapa kata yang dapat aku keluarkan untuk dapat menggambarkan seberapa hinanya kemampuan kotormu. Tapi kepalaku terlalu bertahan untuk membelamu, paling tidak hingga sedetik sebelum ini.
Aku hanya harus sadar satu hal tentang keberadaanmu.
Ya... Kau kesalahan terburuk yang pernah datang dan menjungkir-balikkan aku.
Namun hidupku terus berjalan. Setidaknya aku mengerti sekarang bahwa pelik yang kauciptakan secara tak sengaja ini berangsur-angsur terjawab dengan lantunan indah di hadapan kepalaku. Kau tidak akan pernah mengerti hingga aku benar-benar menghilang.
Langkahku akhirnya habis dipelataran rumah ini dan aku tak akan cari jalan lain untuk sampai ke tempat tujuanku seperti kemarin. Aku akan tetap lewat jalan ini, karena kau dan semua kenanganmu tak pantas untuk berarti apa-apa . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar